Ketika dr. Farah Christina Noya mengajukan Australia Awards Scholarship pada tahun 2008, ia sedang bertugas sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) pemerintah di Kepulauan Aru, Maluku. Pengalaman bekerja di salah satu wilayah paling terpencil di Indonesia membuka matanya terhadap persoalan yang kemudian menjadi arah perjalanan kariernya, yaitu masih besarnya kesenjangan akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas antara masyarakat di wilayah perkotaan dan perdesaan.
Pada awalnya, Farah berencana menempuh studi Health Service Management di The University of Western Australia (UWA). Namun, setelah bergabung sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura (Unpatti) yang saat itu baru berdiri, ia menyadari adanya kebutuhan yang lebih mendesak.
Sebagai salah satu tenaga akademik angkatan awal di fakultas tersebut, Farah melihat secara langsung keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan kedokteran. Bertekad untuk memperkuat kapasitas institusinya, ia mengajukan perubahan bidang studi sebelum berangkat ke Australia. Berkat dukungan Australia Awards dan UWA, Farah berhasil mengalihkan fokus studinya dari manajemen pelayanan kesehatan ke bidang pendidikan kedokteran.
“Awalnya saya tidak yakin apakah perubahan bidang studi itu memungkinkan. Namun, berkat pendampingan dari tim Australia Awards dan dukungan dari UWA, proses transisi berjalan dengan sangat lancar,” kenangnya.
Membangun Keahlian Melalui Penelitian
Di UWA, Farah menempuh program magister yang mengombinasikan perkuliahan dan penelitian. Tesisnya mengkaji berbagai pendekatan global dalam pengajaran keterampilan komunikasi di pendidikan kedokteran, termasuk bagaimana keterampilan tersebut dikembangkan dan dievaluasi di berbagai negara.
Pengalaman tersebut tidak hanya memperkuat kemampuan risetnya, tetapi juga memperluas pemahamannya mengenai bagaimana pendidikan kedokteran dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 2011, Farah menerapkan pengetahuan tersebut dalam pengembangan kurikulum di Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura. Namun, ia kemudian menemukan persoalan yang lebih mendasar. Meskipun jumlah lulusan kedokteran di Indonesia bagian timur terus meningkat, hanya sedikit yang memilih untuk mengabdi di daerah terpencil dan tertinggal.
“Saya menyadari bahwa kurikulum pendidikan kedokteran tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan klinis. Kurikulum juga harus mampu menumbuhkan motivasi intrinsik mahasiswa untuk mengabdi di wilayah yang membutuhkan,” ujarnya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian menjadi landasan penelitian doktoralnya sekaligus membentuk misi besarnya untuk meningkatkan akses layanan kesehatan di daerah-daerah yang kurang terlayani.
Memahami Tantangan Ketersediaan Dokter di Daerah Terpencil
Pada tahun 2018, Farah kembali ke UWA untuk menempuh pendidikan doktor (PhD) dengan fokus pada social accountability dalam pendidikan kedokteran.
Penelitiannya mengeksplorasi bagaimana institusi pendidikan kedokteran dapat berkontribusi dalam mengatasi kekurangan tenaga kesehatan di wilayah perdesaan dan terpencil. Melalui kajian literatur global dan penelitian mixed methods di Maluku, ia menelaah berbagai faktor yang memengaruhi keputusan dokter untuk bekerja dan bertahan di daerah-daerah tersebut.
Pelaksanaan penelitian di tengah pandemi COVID-19 menjadi tantangan tersendiri. Namun, dukungan dari para pembimbing, Australia Awards, serta institusinya memungkinkan penelitian tersebut diselesaikan dengan baik.
Di saat yang sama, Farah juga menjalani peran sebagai ibu bagi dua anak dan bahkan melahirkan anak ketiganya selama menjalani studi doktoral di Australia.
“Menyeimbangkan tuntutan penelitian dengan tanggung jawab sebagai ibu merupakan tantangan yang sangat besar. Saya sering merasa lelah secara fisik maupun emosional. Namun, lingkungan pendidikan di Australia yang didukung sistem layanan yang ramah keluarga dan mudah diakses sangat membantu saya menjalankan kedua peran tersebut,” tuturnya.
Farah mengakui bahwa lingkungan akademik di Australia, yang didukung layanan pendukung mahasiswa serta bimbingan akademik yang kuat, berperan penting dalam keberhasilannya menyelesaikan studi.
Hasil penelitiannya melahirkan tujuh publikasi internasional pada jurnal ilmiah bereputasi serta menghasilkan rekomendasi berbasis bukti untuk memperkuat kebijakan pengembangan tenaga kesehatan di wilayah perdesaan Indonesia.
Mengubah Hasil Penelitian Menjadi Aksi Nyata
Setelah kembali ke Indonesia pada awal tahun 2023, Farah bertekad menerjemahkan hasil penelitiannya menjadi perubahan nyata.
Salah satu fokus utamanya adalah mendorong integrasi prinsip social accountability dalam pendidikan kedokteran. Menurutnya, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat di daerah yang kurang terlayani.
Berbekal pengalaman selama menempuh pendidikan di Australia, Farah melihat pentingnya memperkuat keterkaitan antara pendidikan kedokteran, perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan, dan sistem pelayanan kesehatan.
“Pendekatan di Australia menunjukkan kepada saya bagaimana kebijakan, kurikulum, dan pelayanan kesehatan dapat berjalan selaras. Saya percaya keselarasan seperti itu juga dapat diwujudkan di Indonesia apabila kita memiliki komitmen yang sama,” ungkapnya.
Saat ini, Farah terus mengadvokasi pentingnya penerapan prinsip social accountability dalam pendidikan kedokteran dengan memanfaatkan hasil penelitian sebagai dasar penyusunan kebijakan untuk meningkatkan akses layanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.
Membangun Kolaborasi Global
Salah satu dampak terbesar dari pengalaman Farah sebagai penerima Australia Awards adalah terbentuknya jejaring kolaborasi internasional.
Pada tahun 2022, ia mempresentasikan hasil penelitian doktoralnya dalam konferensi internasional mengenai kesetaraan kesehatan di Vancouver. Di sana, ia bertemu dengan Dr. Richard Colbran, Chief Executive Officer Rural Doctors Network (RDN).
Kesamaan visi dalam mengatasi ketimpangan layanan kesehatan di daerah perdesaan mendorong terjalinnya komunikasi dan kerja sama yang berkelanjutan. Melalui jejaring tersebut, Farah kemudian diperkenalkan kepada Dr. Robyn Ramsden dan sejumlah mitra lainnya dari RDN.
Hubungan profesional tersebut berkembang menjadi kemitraan resmi antara Universitas Pattimura dan Rural Doctors Network yang berfokus pada penelitian, penguatan kapasitas, serta pengembangan layanan kesehatan di wilayah perdesaan.
Pada tahun 2024, kedua institusi meluncurkan proyek kolaborasi pertama di Kabupaten Buru, Maluku. Program tersebut bertujuan memperkuat sistem kesehatan daerah sekaligus mengembangkan model rujukan yang lebih efektif dalam mendukung praktik dokter di wilayah terpencil.
“Kami dapat turun langsung ke lapangan, berdiskusi dengan para dokter, dan memperoleh berbagai masukan penting untuk mengembangkan program ini,” ujar Farah.
Hingga kini, kemitraan tersebut terus berkembang melalui berbagai kegiatan penelitian bersama, konferensi internasional, serta pertukaran pengetahuan dan pengalaman guna memperkuat sistem pelayanan kesehatan dan pengembangan tenaga kesehatan di wilayah perdesaan.
Visi bagi Masa Depan Layanan Kesehatan Pedesaan Indonesia
Visi jangka panjang Farah tidak berhenti pada penelitian maupun pengembangan kurikulum. Bersama rekan-rekan dan para mitranya, ia tengah mengupayakan pembentukan Rural Doctor Network Indonesia di Maluku yang terinspirasi dari model serupa di Australia.
Gagasan tersebut muncul dari berbagai masukan dokter yang bertugas di daerah terpencil, yang kerap menghadapi keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan profesional, serta kondisi kerja yang penuh tantangan.
“Dokter yang bertugas di daerah terpencil menghadapi tantangan yang luar biasa, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga isolasi profesional. Kami ingin membangun wadah yang membuat mereka merasa didukung, saling terhubung, dan semakin termotivasi untuk terus mengabdi,” jelas Farah.
Menengok kembali perjalanan yang telah dilaluinya, Farah memandang Australia Awards Scholarship bukan sekadar kesempatan untuk meningkatkan kapasitas akademik, tetapi juga sebagai titik awal yang memperluas kemampuannya dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan jangka panjang Indonesia.
Melalui penelitian, kepemimpinan, dan kolaborasi internasional, dr. Farah Christina Noya terus berupaya mewujudkan masa depan di mana layanan kesehatan yang berkualitas dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, tanpa memandang lokasi tempat tinggal mereka.

